Sunday, December 16, 2007
1
sekecil apapun tempat itu ada,
sedikit apapun waktu itu tersedia,
sekejap apapun ingatan itu ada,
sebentar apapun kenangan itu nyata,
sebentuk apapun rasa itu ada,
ijinkan aku ikut menyayangimu...
2
malamku masih tetap panjang
tapi tak lagi berisi kenangan kosong
buat pengantar tidurku
sekarang ada kamu dalam kenanganku
sebelum mataku terpejam
tak lagi hitam putih
tapi penuh dengan warna
dan saat pertama kali ku buka mata
di esok pagi, kamu adalah ingatan pertamaku
terima kasih telah warnai hidupku...
3
sesederhana apapun sebuah kata,
ia akan jadi istimewa
jika diucapkan oleh orang yg istimewa
seistimewa apapun sebuah kata,
ia akan jadi sederhana
jika diucapkan oleh orang yg sederhana
betapa aku ingin jadi istimewa
dalam kesederhanaan
bagimu..
4
mata yg teduh
mata yg bercerita
mata penuh asa
mata penuh rasa
mata yg menanti
mata yg mencari
matamu..
5
Mataku tak pernah lelah..
tak sudi tuk beristirahat,
utk sejenak pikiran melepaskan lelahnya
Mataku tak pernah lelah..
terus membujuk kenangan memutar balik perjalanan,
hingga esok begitu lelah kujalani
Mataku tak pernah lelah..
membaringkan tubuh dalam kepenatan
tanpa sudi mengistirahatkan
Hanya satu yg kuingin
mataku tak akan pernah lelah..
andai setiap waktu ku bisa menatapmu,
wajah yg membuat mataku tak akan pernah lelah
tak akan..
Thursday, November 29, 2007
ada yg hilang..
dan dia datang!
ada yg datang..
ia pun pasti menghilang!
hanya rasa yg tersisa
dan sia-sia..
Monday, October 01, 2007
Akhirnya hujan berhenti..
5 menit sebelum jam 2 pagi.
Sebenarnya kuingin hujan ini sampai akhir pagi.
Hmm, sepi.. begitu panjangkah kesunyian ini?
Jika esok ku kembali tak berarti,
adalah malam yang akan menyiksa diri.
Aku lelah walau tak pernah berlari,
aku kalah walau tak pernah menyerah
Atas waktu ini yang menggerogoti keinginan,
harapan, hayalan dan sisa2 imanku
Aku percaya padaMu...sungguh!
tapi aku belum siap jadi hambaMu.
Aku rindu padamu...sungguh!
tapi aku tak mampu menggapaimu.
Dua kesunyian di ruang hati yang kosong.
Dua kesunyian yang kubawa lewati jam 2 pagi ini
dalam setiap datangnya hari!
Friday, August 24, 2007
Hapuslah semua kenanganku,
biarkan aku tak ingat apa2 lagi,
biarkan semua kosong dan meruang putih.
Ijinkan aku belajar menulis lagi,
kali ini aku akan belajar sungguh2.
Takkan kubiarkan tinta ini terserak lagi,
akan kujaga agar kertas ini tak sobek lagi,
akan kuselesaikan tulisan ini.
Tolong beri aku selembar kertas lagi,
Insyaallah...
Monday, August 20, 2007
Hanya suara hujan..
saat malam ini kembali kuberjuang
tuk memejamkan mata.
Bukan tubuh yg lelah,
tp pikiranku yg terus mengunyah ngunyah
setiap sikapku.
Tentang kebodohan, kelemahan, ketakutan
kesepian dan berjuta hayalan.
Sial.. seharusnya aku sudah bisa bersembunyi
saat2 begini!
Aku benar2 lelah..
Tuhan, adakah doa buat datangkan kantuk?
Friday, June 15, 2007
kadang-kadang hujan yg turun mengingatkan padamu.matamu bintang yg bersinar terang,
dalam malam-malam pengembaraan
akankah usia menghadirkan kebijaksanaan?
ketika aku berjalan dalam mabukku
angin membelai rambutku sambil berbisik,
hei.. lihatlah bintang-bintang itu
telah hancur berkeping-keping,
lama sebelum keindahan cahayanya
menerangi pengertian-pengertianmu...
Sunday, May 27, 2007
Aku masih mengingatmu seperti yg dulu.. seperti embun yg jatuh dan memecah di kesunyian hati,
tanpa suara menyerpih ribuan rasa.
Aku masih mengingatmu seperti yg dulu..
seperti senja turun dibalut gerimis kecil,
butiran halus sejuk menerpa keindahan pesona.
Aku masih mengingatmu seperti yg dulu..
seperti bintang di kejauhan memberi isyarat kehadiran,
tampak kecil namun jutaan pijarnya membuat cahaya begitu mnakjubkan.
Aku masih mengingatmu seperti yg dulu..
seperti putaran waktu yg memberi usia pada kedewasaan dan kematangan,
isyarat hidup adalah perjalanan jiwa.
Aku masih mengingatmu seperti yg dulu..
seperti cinta itu tumbuh dan terus menuai tunas baru,
tak perduli musim terus berganti.
Aku masih akan tetap mengingatmu...
Air Tawar 17-05-07
Friday, March 02, 2007
Kenangan Akan Mimpi
Adakah gerai-gerai keharuman hitam rambutmu dapat selalu kubelai dan kuurai dengan jari-jariku yang penuh dengan keinginan terhadap keindahan yang kuraba dan kuciumi dengan lembut saat kunikmati apa yang kunamakan dengan sentuhan cinta yang menyapa di beranda hati terhadap wajah yang selalu menampakkan diri dengan senyum mengukir kenangan terhadap diri terhadap bayangan yang tercipta selepas kenyataan harus pergi dan malam-malam adalah penderitaan kepedihan hati. Adakah…
Thursday, March 01, 2007
Pupus di tangan menggapai bayang. Kelikuan relung membentur kesemuan. Hati telah lama membeku dan hilang. Raib dalam tebaran pancaran cahaya. Begitu terang tuk menyilaukan tujuan. Akhir dari fatamorgana kesendirian jiwa. Angin tiup jejak-jejak tertutup debu. Pedih di mata undang segumpal air mata. Bukan tangisan... sekedar hidup apalah guna!
Mukjizat Alam Raya
Friday, February 16, 2007
Aku melangkah di jalan setapak ini berharap gerimis turun ataupun embun jatuh di wajahku, pagi ini.
Adakah bebatuan, tebing dan sungai ini masih menyimpan kenangan akan kita, sobat. Apakah engkau akan melupakan jernihnya keceriaan masa kecil kita. Adalah pematang sawah hamparan padi menguning, pepohonan dan batang-batang ilalang menyembunyikan langkah kita yang berlarian.
Jika kau ingat kenangan, sudikah kau mencari jawaban dalam hatimu. Bahwa pertemuan ternyata kau jadikan sebuah kerinduan.
Thursday, February 15, 2007
a aku ingin membunuhmu... Kujemput malam dengan kenangan yang tersisa, kujadikan mimpi saat tidurku terasa hampa. Dan malam yang berlalu adalah kekalahan jiwaku, saat dimana tiada dapat kurengkuh hatimu... hari ini. Aku terus jalani hari-hari bagai terpenjara khayalan, yang terus memunculkan wajahmu yang menari-nari. Di seputar otakku, di segenap ucapku, di sekujur nuraniku. Serasa aku ingin membunuhmu, dari rasa yang membunuhku...
Tuesday, February 13, 2007
tatkala kicauan burung mulai sayup-sayup terdengar
dan tetesan embun jatuh oleh deru kendaraan
Sinar mentari yang muncul mulai memberi kesibukan
tak ada waktu untuk menikmati permulaan hari ini
semua harus serba berpacu, sebelum sinar ini sirna
Semesta alam yang berencana, mengulirkan waktu ini
pergulatan yang mengalirkan peluh-peluh di sekujur tubuh
perjalanan yang menghadirkan kerasnya perjuangan untuk menggapai sedikit tujuan
Adakah rutinitas ini adalah keinginan kita
kalau hanya untuk mengulang hari kemarin di hari ini
dan menunggu habisnya keberadaan mentari ini
untuk segera beranjak ke pembaringan
Semesta alam yang berencana, menghadirkan senja ini
dan orang-orangpun pulang dengan hasilnya masing-masing
menghitung-hitung, berpikir-pikir dan mereka-reka
apa yang akan mereka perbuat esok
sementara keindahan yang tercipta hari ini, terabaikan
Sungguh, rutinitas manusia yang memuakkan.

dan kitapun dengan bangga berkorban, menyerahkan segala kekayaan hati
yang mereka sebut sebagai pahlawan
Tapi apakah yang telah mereka berikan pada kita?
cuma pahitnya kehidupan dalam jalan-jalan berdebu
yang tiada tersentuh sedikit tanya dalam kepedulian
Kita cuma korban kekejaman penguasa
dan dengan angkuh mereka bertanya,
apa yang telah engkau berikan pada ibu pertiwi?
sementara mereka tidak pernah berhenti menyusu!
Menyentak debar-debar perputaran pencarian rasa
Begitu dalamnya hingga jiwa tenggelam tak tentu
Entah kenapa setiap terpandang kalbupun melayang
Duhai, mukjizat mata seorang insan manusia
Mengapa terasuk ke relung-relung heningnya hati
Hingga setiap gerak, setiap ucap jadi begitu berarti
Dan serasa ingin memberikan sejuta rasa dalam hadirnya
Mengepakkan sayap-sayap putih menuju awan
Lalu keindahan terbalut pelangi menjadi bayangmu
Begitu kuatnya hadirmu, tuk sebuah harapanku

Tersipu sendiri mengganggap nurani telah tertumpu
Memang kadang ada desir lain di lubuk kalbu
Tatkala jiwa ingin slalu bertemu, kuterbalut rindu
Bayangan keindahan yang senantiasa membayang
Romansa alam percintaan, bisikan kata-kata sayang
Sentuhan yang begitu lembut, duhai insan melayang
Tak pernah bosan walau begitu dekatnya mata memandang
Terkulai di antara belaian akan sejuknya tuk dipapah
Dibuai oleh lesatan anak panah kadang tak tentu arah
Dan masih saja, cinta adalah sesuatu yang indah
Air Tawar, 24 Mei 01
penuh keanggunan yang kau sinarkan
lewat celah-celah awan yang begitu tenang
sementara bintang-bintang terus mengerjap tiada henti
pada danau yang bening dan memantul
kala riak-riaknya lembut bersentuhan
aku berdiri dan menatap alam ini
tak terasa perjalanan hampir kucapai
kulepas lelah menatap bulan di danau
kuhilang dahaga dengan airnya bertabur bintang
berbaringku menatap langit yang berawan
ada ketenangan yang kurasakan
bersama sirnanya kelelahan dan kesuntukan
sunyi adalah disini
damai adalah disini
kuhirup nafas alam ini dalam-dalam…
tak terasa malampun berlalu
sisa-sisa unggun masih berusaha menghangatkan
walau hanya tinggal bara-bara berasap
aku bangkit dan mulai berjalan lagi
menyongsong fajar di puncak kemerahannya
yang terselip di balik hijaunya bebukitan
setelah kabut-kabut sirna di lembahnya
kutatap jauh ke depan
ada asa-asa memanggil suara hatiku
entah mengapa… selalu
aku merasa ditantang oleh alam
seakan ingin kudipeluknya, dicumbunya, dirayunya
dalam segarnya udara dalam nyamannya hutan
sunyi adalah disini
damai adalah disini
kuhirup nafas alam ini dalam-dalam…
di puncak pendakian mataku menerawang
ke segenap arah, ke segala penjuru
ada rasa kemenangan bersorak di dada
sesaat hilang segala persoalan
sesaat sirna semua kegalauan
yang ada hanya ketenangan… kedamaian
aku ucap cinta padaMu
Aku hirup nafas alamMu dalam-dalam.
Air Tawar,
Demi Masa Depan
Air Tawar, 9 Juni 94
Aku lewati waktu ini dalam sepiSendiri mencoba memberi semangat pada diri
Ku coba tengok jauh ke belakang,
di mana hari-hari terhabiskan tanpa arti
Ku maki diri sendiri…
Entah berapa banyak yang telah ku lewati
Dan aku masih diam tak coba mencari
Apabila sesuatu itu kulakukan sejak dahulu,
takkan ada sesal ku tinggalkan waktu
Bahkan sekarang juga…
Kembali kumaki diri sendiri!
Air Tawar, 1 Januari 04
01 01 04
tanpa menyisakan sesuatu buatku
sesuatu untuk dikenang,
sesuatu yang berarti,
sesuatu yang bisa kusimpan di hati
semua terasa hampa…
Adakah di esok?
tak peduli siapa pasti
desir-desir keinginan bersatu menyentuh jiwa
menyapa dalam kegusaran akan harapan
tiada mata memandang seperti hati yang bimbang
petualangan nurani berlabuh di sudut terdalam
menyulut segala rasa, segala yang ada dan terasa
masih saja, cinta adalah perjalanan tak nyata
membenamkan segala akal tuk tujuan tak pasti
apakah cinta…
bila tersimpan saat waktu tak tersedia
bila tak terucap saat kenangan berlalu
bila membunuh segala masa-masa yang harusnya ada
apakah cinta…
seandainya penantian tak kunjung tiba
Kampus Limau Manis, 99
entah kenapa saat-saat yang sulit tak mudah pergi
kemarahan yang ada mengalir begitu saja
berbagai persoalan yang datang dan membebani
kadang begitu pelik untuk aku pikirkan
akupun kusut pikiran dan jenuh membayangkan
kadang aku merasa diabaikan,
dengan perasaan yang aku miliki tak dihargai orang lain
menjadikan mereka musuh selain diriku sendiri
terkadang aku ingin memaksakan kehendak
tapi mereka malah menjauh dan mengelak dariku
bilakah pengakuan itu berpihak padaku
kadang aku merasa tak berarti,
bila perasaanku tersudut pada lorong-lorong buntu
yang andai kuraih belum tentu dapat kumiliki
biarkanlah aku mencoba yang terbaik untukku
andai kesempatan itu kau berikan sejak dulu
niscaya keberanganku takkan berapi-api seperti kini
bila semua pikiranku hanya tersimpan dalam benak
tak ada waktu untuk membongkar dan mengutarakannya
bahkan di saat ingin meledak seperti saat sekarang ini
malah bertambah kusut dengan perlakuan tak acuh
andai aku meledak, aku tak ingin semua menjadi iba
karena pada saat itu aku sudah menjadi gila.
sebuah cinta kurangkai … lalu sirna
sebait lagu kucipta … lalu berlalu
sedikit asa kugenggam … lalu binasa
kata cinta … habis sirna
lagu asa … berlalu binasa
Air Tawar, 7 Mei 93
ditemani sunyi
terasa hening mencekam diri
dari balik kabut yang mulai turun
melangkahku mendaki
menapaki jalan berliku
sendiriku di sini
mengarungi kehidupan yang sepi
semu di mata membekas di jiwa
seraut rona penuh pesona nan menggoda
segenap nurani berdebar dan meronta
sekejap nyana ku terpaku, melayang
semestinya, inilah cinta…
Kampus Limau Manis, Oktober 99
pada diri tak dikenali
dalam cermin retak sesisi
jeritan tengah malam
kelelawar mencicit
tergeletak
lalu diam menari
Air Tawar,
Hidup
Aku jalani hidup ini
seperti lautan tak bertepi
kadang gelombang
kadang pasang
seperti kapal tak berlabuh
berkelana tak tentu arah
mengembara entah kemana
tanpa awal
tanpa akhir
abadi
Air Tawar,
dan hinggap dalam ingatan
sesaat teringatku akan Mu
lalu melayang dalam harapan
menerawang jauh ke awan
menembus ruang waktu
untuk satu tujuan
Tuhan…
Air Tawar,
tatkala debar-debar perlahan tak kuat kutahani
lembut terasa merangkul memanggil jiwa
nurani, jiwa yang terdalam melayang tak berdaya
entah… mungkin hanya perasaan sekali dua
namun dekatnya begitu dekat tuk selami batas cinta
aku, kasmaran untuk seorang yang lebih dari hanya wanita
bagai kasih yang bersih dari kemunafikan dunia
cinta yang terlahir bukan sekedar nafsu
kurindu anggunmu melambai harum rambut sebahu
keindahan nyata sebatas siang berlalu
ku dikejar waktu…
Sunday, February 11, 2007
cintaku pasti tak setinggi gunung
cinta tak perlu tinggi
cuma perlu kerendahan hati
dan sadar tuk saling memahami
laut mungkin dalam
cintaku pasti tak sedalam laut
cinta tak perlu dalam
cuma perlu kelapangan dada
dan yakin tuk saling menjaga
langit mungkin biru
cintaku pasti tak sebiru langit
cinta tak perlu biru
cuma perlu kebeningan jiwa
dan pasti tuk saling menyangga
cintaku pasti tak sekokoh karang
cinta tak perlu kokoh
cuma perlu pengertian diri
dan nyata tuk saling mengerti
Air Tawar, 97
Thursday, January 25, 2007

Dapatkah
tak sadar perasaan memberontak dalam gejolak
gelombang rasa di jiwa terbenam di antara ragu
buaian kasih akan rasa sayang terasa membelenggu
nyata dan tak dinyana ku telah terbalut dalam rindu
tatkala aku tak lagi bisa tak segera melupa
sekilas bayanganmu terasa dekat menatap wajahku
pelan hanyutku menyertai hari dan malamku
entah kenapa tak bisa lepas dari alam pikiran
menghantui dan membayangi setiap detik yang berlalu
bisikan kata hati menuntun diri penuh ambisi
dan aku tak peduli akan segala yang
biarlah kunikmati yang ada hari ini
mungkin esok
telah membuat jiwa petualanganku memburu sebuah misteri
antara hitam yang pekat terasa tajam menusuk sukma
akupun terhanyut dalam ketenangannya
dan akupun terbakar di keteduhannya, teramat dalam
melayang dalam ingatan
ketika cinta jatuh di rembulan
tampak dirimu dalam bayangan
tanpa suatu kepastian
aku melangkah tanpa tujuan
mengikuti rembulan malam
yang semakin pudar ditelan alam
Air Tawar, 23 September 93
Diantara keinginan yang masih terkekang oleh kenangan akan masa lalu.
Dan apakah yang akan kucapai di awal pagi ini, semua terpulang lagi pada diriku sendiri.
Aku terkesan hidup serasa menghabiskan waktu diantara banyaknya waktu yang (masih) kudapatkan.
Nyata aku terperangkap oleh jebakan masa lalu yang kuat membelenggu akal dan pikiranku, mental dan perasaanku.
Aku tercipta oleh ego-ego yang membangkitkan amarah dalam pertengkaran menuju suatu kehancuran kepribadian yang bahkan belum terpoles.
Namun bagaimana aku kan turut membaginya bila nyata sejak dahulu memang tidak pernah kudapatkan.
Aku tidak akan menyesali semua yang telah terjadi, aku hanya ingin bisa berubah walau untuk diriku sendiri.
Aku tidak akan pernah menyalahkan walaupun dalam hatiku keperihan itu selalu ada, dan aku percaya rasa kasih sayang itu pasti ada untukku.
Aku cuma ingin bisa menjadi diriku sendiri lagi, walau sulit mengubah telah terpatrinya kepahitan di dalam hatiku.
Akupun tidak pernah untuk tidak menyayangi, mencintai karena walau bagaimanapun aku adalah bagian dari kalian, aku ada karena kalian.
temaram membelah bintang ke ujung
lambat kabut merendah menyelimuti
hangatku besertamu sirna kemarin lalu
kini tubuh dingin sendiri
bulan jatuh sepotong
bayangan flamboyan mengusik pancaran cahya
tenang suara sungai susuri bebatuan
ingatku bersamu lenyap di tiup bayu
kini pikir hampa sendiri
bulan jatuh sepotong
bayangan putih kabut makin memekat
kicau burung kicau kepulangan
kenanganku akanmu terbang melayang
kini hati kosong sendiri
tapi apa daya aku takut ketinggian
kupandangi setiap ada kesempatan
namun leherku terasa pegal-pegal
kubaringkan tubuh mengintipmu
namun itu membuatku tertidur
dan bermimpi…
bahwa pada suatu saat
langitlah yang datang padaku
sehingga membuat aku terjepit dan sesak
antara langit, aku dan bumi
aku begitu sesaknya
hingga kumaki-maki langit yang menghimpitku
kubentak bumi yang mendorongku
dengan penuh amarah
begitu kubangun…
aku telah kehilangan keduanya.
Air Tawar, 20 April 01
Tuesday, January 23, 2007

Kuakui aku lelah ‘tuk mencoba agar bisa melupakanmu, walau ingatanku padamu adalah kelukaan. Namun tetap saja cinta itu lebih besar menyelimuti segala rasa.
Perasaanku terasa terombang-ambing dalam segala rasa yang muncul secara bersamaan, saat dimana kemarahan terasa memuncak namun kerinduan bergelora, saat luka terasa pedih namun harapan tetap mendidih, saat kebencian melanda hati namun cinta itu bagai gejolak mencari.
Terkuncikah semua pintu. Tertutupkah semua jendela. Bahkan celah-celah sekecil apapun untuk aku mengintip, mencoba mencari tahu dan ingin lebih mengerti tentang semua kegelapan ini yang tercipta karena pudarnya rasa yang ada tentang rasa percaya, kasih dan cinta.
Terkuncikah…
Hilangkah sedikit cerita yang tercipta. Yang adalah kelahiran dari kenangan hari ini. Atau engkau mencoba menyimpan dan enggan membuka mulut saat engkau rasa itu sia-sia dan penuh kecewa. Di mana kita berjalan, tiap hitungan waktu adalah sejarah dan jangan malu belajar dari sejarah.
Hilangkah…
Masihkah noda-noda yang ada meninggalkan bekas yang tak hilang dan terus menghantui sejuta pikiran tatkala mimpi itu kau resapi sendiri, suram dan melelahkan. Mencoba sembunyikan sendiri karena jeritan hati tiada seorangpun yang ‘kan mendengar, namun desahan nafasmu jelas berkata lain… ia terus bercerita.
Masihkah…
Janganlah memutuskan sesuatu tanpa jauh melihat ke depan karena jalan esok adalah awal kita melangkah hari ini. Kita tak mesti memotong jalan ataupun mencoba jalan pintas karena kadang ketersesatan itu datangnya begitu mudah. Karena itu lalui saja jalan-jalan biasa dalam mencapai tujuan.
Ketenangan dalam bertindak adalah cahaya untuk mengintip rambu-rambu dalam hidup ini. Dan kecermatan dalam membaca tanda-tanda itu adalah jembatan menuju penyeberangan jiwa di mana ego dan kedewasaan ‘
Memang setiap kita mempunyai kekurangan, karena tidak ada manusia yang sempurna. Namun kitapun di beri kelebihan, talenta-talenta untuk mengikis kekurangan kita. Jika kita dapat memanfaatkan kelebihan kita niscaya segala kekurangan lambat-laun akan tersingkirkan, namun jika kita mengabaikan kebihan kita, percayalah kekurangan itu akan semakin nyata.
Dan untuk itu kita harus memilih.
Kini aku terkesima, terkejut bahwa semua itu tidak mempengaruhi keberadaanku. Aku masih di sini di tempat yang sama dari tahun-tahun lampau di mana sekarang sekelilingku telah berubah menjadi asing tiada kukenali lagi.
Ke manakah kemauan pergi… atau adakah aku cuma bermimpi bahwa ternyata aku kehilangan terhadap diri sendiri, suatu kendali tentang harga diri ataukah kepercayaan diri. Memang aku telah lupa diri…

Jauh di Sudut
Gambaran masa lalu, masa silam adalah gambaran masa suram tatkala kenangan yang kuingat adalah sebatas lalu yang terputus-putus memberi kedewasaan pada jiwaku yang kurus, lemah dan tiada pernah penuh.
Aku jatuh sebagai embun di mana kuatnya cahaya mentari tak kuasa ‘tuk kutatap. Aku berderai, memecah dalam sunyi tanpa teriakan saat ku terhempas ke bebatuan, keras dan sombong.
Kucoba mengalir, coba lalui dengan apa adanya. Aku menghilir mengikuti arus yang terus membawaku entah ke mana. Ku tak kuasa melawan, ku tak kuat berontak karena memang kecongkakan itu begitu dalam menusuk jiwaku. Aku bagai terikat, kaki dan mulut. Ku tak kuasa melangkah dan bicara, aku telah menjadi cacat jauh di sudut otakku.
Aku mencoba lepas, mengeliat walau tanpa tenaga. Aku mencoba bicara, berteriak walau tanpa suara. Dan jauh di relung hatiku, aku masih punya sedikit harap dan itu ‘kan selalu kujaga… Akan selalu kujaga.
Bunyi air jatuh menjadi irama yang panjang,
membawa diri pada kenangan yang hampir hilang
Dan lagi-lagi hujan ini setia untuk mengingatkan
Sesaat pikiran ‘
karena memang sejarah itu takkan terlupakan
Sejarah kelukaan yang kubasuh sepanjang jalan,
dalam dingin memikul sekeranjang penyesalan
Aku menyerah…
sementara belantara hati dambakan sejuknya embun
semenjak kegersangan terselimuti kabut putih nan pekat
tak mau ia pergi, bergelayut, bergelantungan erat dan kuat
Patutkah aku lari dari padang rumput ini,
yang kadang memberi kesejukan, namun terkadang aku tersesat
Engkau memberiku kesepian,
sejak bintang-bintang yang kita pandang sepanjang jalan
kini aku hitung sendirian
Adalah waktu lalu ingin lebih kuresapi,
ingin lebih kuresapkan ke dalam hatimu
bahwa sementara kesempatan itu ada harus kuraih sebaik-baiknya, seindah-indahnya
agar keraguan itu tiada dan kurengkuh hatimu seutuhnya, seutuhnya
Dan kini kekosongan itu membuatku seperti tiada arti.
Air Tawar, 28 Agust 01
aku rasa itu bukan cinta, itu hanya penipuan perasaan
membuat apa yang terasa seperti getaran-getaran cinta
Tapi apakah semua orang tahu rasa cinta itu ?
aku sendiri sering mencoba mencari tahu, sering ingin merasakan
tapi aku tak tahu kapan aku jatuh cinta, pernahkah aku jatuh cinta
Dan apakah aku mencintaimu ?
Jika cinta itu adalah suatu perhatian dan keinginan melalui waktu dalam kebersamaan, aku rasa aku memang mencintaimu
Tapi jika cinta adalah suatu ikatan, tuntutan agar melalui kebersamaan dalam keengganan memberi kebebasan, aku rasa aku tak pernah mencintaimu…
bentuklah segala keinginanmu menjadi suatu kebulatan tekad bahwa engkau memang mampu untuk meraihnya
Tidak masalah impianmu serasa muluk ataupun terlalu tinggi,
itu artinya engkau mempunyai rasa percaya terhadap dirimu sendiri dan membangkitkan semangat untuk menjadi lebih
Kita harus punya tujuan hidup bukan semata menjalani hidup,
dan jangan takut terhadap perubahan karena memang tujuan itu kadang perlu proses yang pelik, untuk itu jangan pernah kenal dengan kata putus asa dan menyerah
ciptakan di awal langkahmu suatu jalur yang telah tersketsakan dalam arah yang benar tentang segala sebab akibat, tentang pertalian antara kemauan dan kemampuan
Tiada pula keraguan sekali-kali mematahkan asa yang ada, jika kepenuhan pada pemikiran telah mematangkan segala tindak tanduk yang akan bermuara kepada kearifan terhadap diri sendiri.
Dan jangan pernah membohongi dirimu sendiri, mendustai kata-kata yang terlahir dari lubuk hati. Ikutlah kata nuranimu, tidak lebih…
karena hujan yang turun telah membasuh namamu dari jendelaku yang lusuh dan kotor
Sekarang hujan membawa kenangan lain,
kenangan yang mestinya harus kudapatkan walau bukan dari dirimu
Kenangan itu tergenang di halaman rumahku, terus menitik membasahi segalanya
Hujan yang memberi kedinginan, sudikah aku menerima kesepian…
Karena memang seharusnya lebih ada yang dominan agar ketergantungan itu selalu ada dan dari sanalah bisa terjadinya hubungan yang berketerusan bukan saling melepas dan membuat ikatan.
Maka tiap kali hujan turun tiap kali pula kuberharap bisa seperti hujan, selalu mencurahkan segalanya walaupun tidak diharapkan
Karena memang cinta datang karena telah biasa, seperti musim hujan ini yang lambat laun mulai kurindui setiap bunyi tetesnya di atap rumahku…
Sunday, October 08, 2006
Suci 1
Aku buta untuk tidak membuka mata,karena aku terpesona oleh kegelapan.Yang ternyata kudapatkan terhadap yang kurindui.Aku tuli untuk tidak menajamkan telinga,karena aku terbuai oleh kesunyian.Yang ternyata adalah akhir dari yang kuimpikan.Buat cacatku, aku harus minta maaf...
Mira
Membelai keinginan dalam suatu harapan
Indah membayang merasuk perasaan
Raut-raut penuh pesona dan misteri di mata
Adalah petualangan indah serta menantang
Telah datang dan hadir semenjak senyumanmu
Rasa yang menghentak, membakar akar jiwa
Impian masa datang memburu langkah ragu-ragu
Antara batas perasaan dan menjaga perasaan
Nelangsa takkan lama selama waktu kan ada
Adalah dirimu, membuai dan telantarkan rasa cintaku
Mungkin percobaan akan kesabaran telah muncul
Ingin memiliki harus perlu suatu pengorbanan
Rentannya hati akan kasih sayang yang menjelang
Antara waktu yang ada butuh suatu perjuangan
Tak ada kasih begitu saja datang bersemayam di kalbu
Rasanya adalah keakraban yang menuai rasa rindu
Indahnya mimpi-mimpi malam hari akankah jadi nyata
Andaikan esoknya perjumpaan cuma sebatas lalu
Namun tiada lagi arti bila perasaan telah terkekang
Adalah dirimu, mengurung dan pendamkan rasa cintaku
Rasa Cinta
Kelembutan yg menyeruak elus sekeping asa
Benang2 merajut asmara kian memabukkan
Relung seketika melayang menembus batas jiwa
Adalah keindahan, nyata dan menggairahkan
Gerai2 kasih tersibak dan merona
Terpancar dalam kebeningan indah mata
Seketika belaian hangat dan menenangkan
datang dan bersemayam dalam satu hati
Bagai sedalam tarikan nafas berdesah pelan
Kurangkul bayang2 beraroma harum
Tatkala angin meniup membelai tubuhmu
Tak ingin rasanya melepas, tinggallah dalam mimpi
Agar setiap saat kutinggal memejamkan mata
Heningnya cinta menyeruak ke bening jiwa
Tak kuasa dan nyana membunuh segala rasa
Sekarang cuma satu yang tertinggal,
rasa cinta...
Buat Malvina
1
saat mataku tak bisa terpejam
kuharap tidurmu lelap
dan mimpimu indah...
saat pikiranku jauh menerawang
kuharap ada damai
menyertai tidurmu...
2
ketika kau bicara
aku tak cuma mendengar
tapi juga ingin melihat
kata-kata itu keluar
lewat diantara dua bibirmu
karena itulah aku suka
memandang bibirmu
ketika engkau bicara
3
tertawalah pada dunia
tertawakanlah dunia
tapi menangislah padaku
menangislah untukku
4
aku terbangun
dengan sebuah nama, secarik ingatan
dan sebentuk kenangan
terhadapmu...
begitulah aku memulai hari
pagi ini!
5
tetaplah menatap matahari, pagi ini
walau sepertinya hujan akan turun
setidaknya aku berharap pelangi
karena keindahan itu memang tidak dapat disembunyikan
6
ambillah yang terbaik dariku
karena diam-diam...
aku telah mencurinya darimu!
Hari Ini
Hari yang datang, saat kemerahan di ufuk timur membalur luruhnya embun dari tangkai-tangkai, yang jatuh bertebaran bagai butiran mutiara, berkilauan dan menebaskan cahaya. Awal yang indah untuk hari ini.Akupun seperti biasa memulai lagi kehidupan biasa yang memang telah terbiasa aku lakukan hari demi hari. Sebuah rutinitas yang panjang dan lama yang dengan malas aku perjuangkan untuk sampai ke titik rutinitas baru di kemudian hari. Memang aku ingin beranjak dari perhentian ini karena telah lama semua yang kumiliki tersekat dan tiada kukenali lagi.
Dan hari ini ada sesuatu yang lain tengah aku rasakan. Entah kenapa aku ingin mempunyai sesuatu yang berarti hari ini, dan tanpa kusadari ada harapan dan semangat yang menggebu untuk mengeksploitasi segala yang kumiliki dan ingin kuraih segala yang kuingini. Hari ini aku ingin egois.
Begitulah, setelah pagi datang aku melangkah dari sebuah persemayaman segala ilusi dan hayalan-hayalanku yang setiap malam selalu kusketsakan dan kutuangkan dalam pikiranku yang lambat laun telah menjadi candu pengganti indahnya kenyataan, dalam alam yang penuh impian. Dan hari ini, kubungkus semua mimpi itu dan kubuang jauh ke jalanan yang masih sunyi dan basah oleh titik-titik embun sisa pergantian malam. Hari ini kumelangkah dengan kenyataan.
Sepenuh jiwa dan nurani yang tajam, kutangkap semua isyarat dan kuraih semua tanda-tanda yang rasanya akan membawa suatu perubahan terhadap sikap dan perilaku, bahwa belum terlambat untuk mencoba dan menyelesaikan apa-apa yang selama ini aku tinggalkan dan lalaikan. Hari ini aku menjadi manusia baru dan benar-benar ingin menjadi seorang manusia.
Kusandang semua perkakas kehidupanku, dari cerita akan masa depan yang terus kujalani hari demi hari terhadap suatu tujuan dan cita-cita akan kehidupan baru. Kusadari kini, deraan waktu kadang membuat aku seperti terburu-buru dan ragu-ragu. Dimana rasanya ketergantungan akan waktu telah membuat semua yang kulakukan dan jalani seperti tertatih-tatih mengejar. Hari ini kusadari pula bahwa aku masih punya banyak waktu, dan itulah yang tak akan kusia-siakan.
Dan akupun tahu, ada sesuatu yang telah menunggu kehadiranku. Bagaimanapun setiap manusia mempunyai arti baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Dan aku harus yakin akan arti diriku untuk diriku sendiri maupun untuk sesuatu ataupun seseorang. Hari ini aku harus lebih terbuka untuk mengerti diriku dan orang lain, agar aku yakin bahwa kehadiranku adalah sebuah kenyataan.
Apa yang kujalani hari ini harus ada makna yang dapat kutangkap, harus ada arti yang dapat kuraih walaupun itu sedikit dan samar untuk kupahami saat itu juga. Namun aku masih mempunyai waktu untuk itu semua, untuk bisa memahami, memilah dan membaca tanda-tanda yang tak terucapkan dengan bibir, tanda-tanda yang hanya bisa kubaca. Aku harap aku tak salah membaca agar antara keraguan dan kepastian itu tak berakhir dengan kecewa. Hari ini aku akan mulai belajar membaca...
Aliri darahku dengan racun-racun matamu, saat tajamnya matahari lebih kuat tuk kutatap. Saat pertama memang aku tak berpaling, namun pada akhirnya aku harus tertunduk terpaksa menunduk.
Ternyata mentari yg indah saat sore ini ataupun sore itu tak kuasa tuk aku intip, karena aku tak dapat memeluknya, menciumnya hingga hati dan mulutku tak kuasa membuatmu percaya bahwa itu adalah sebuah keindahan.
Aku hanya seorang pemapar, kulukiskan pada wajah-wajah bumi segala kecantikan wajahmu. Kuujarkan segala pujian pada sudut dan relung-relung hatimu. Dan aku hanya seorang pemapar, bukan pemilik.
Dan walau pada akhirnya segala yg kutemukan pada dirimu adalah sebuah perjalanan tanpa persinggahan, aku ingin kau pernah lewat disini.. dihati. Memang itu telah terjadi dan jangan kau ingkari kau pun sempat tertegun, bahkan menoleh walau langkahmu tak terhenti. Aku yakin di hatimu aku pernah berarti...
Aku berlayar pada hempasan pertama gelombang kehidupan yg meniupkan roh pada ragaku oleh Sang Kehidupan. Dan perlahan angin buritan membelai wajahku yg penuh harapan. Harapan pada keinginan dan tujuan dari pelayaranku di atas samuderaMu yg terus kucari arah kemana kan kutujukan kapal kehidupanku mencari demagaMu.
Angin dan topan yg kadang menghantam, membutakan arah dan ketetapan tujuan yg kadang hilang saat kegelapan datang dan kegetiran menghalang rintang.
Namun cinta itu adalah cahaya, mercusuar bagi para pelayar yg kehilangan tanda-tanda dan suatu alat tuk dijadikan pegangan. Karena untuk cinta itulah aku hidup sampai saat dimana pasti kan kutemukan pantai keindahan dan kasih sayang yg bertaburkan pasir-pasir cintaMu, wahai kekasih.
Dan untuk sementara waktu pelayaranku kan terus abadi mengarungi samudera cintaMu sampai saat yg Kau tentukan untuk melimpahkan seluruh cintaMu padaku sampai tiada terbatas. Suatu waktu, di atas singgasanaMu...
Pengalaman
Terkadang kenyataan yg datang adalah sebuah cobaan dan pertaruhan akan kokohnya kehadiran kita menyapa dunia ini yg memang menyediakan ratusan-ratusan cerita tentang umat manusia yg bisa berganti setiap hari bahkan setiap detik.
Dan perjalanan ini takkan pernah sia-sia karena setiap cerita adalah sebuah petunjuk bila kita bisa menggali apa maknanya, dalam mencari hakekat hidup kemanapun langkah kan membawamu jangan merasa terbebani dan terpaksa selagi engkau masih bisa mengendalikan jalannya nurani agar tidak buta dan salah arah.
Hidup adalah mencari pengalaman, belajar dari pengalaman, menemukan pengalaman, mengajarkan pengalaman agar sebuah kesalahan takkan pernah terulang, agar yg terbaiklah yg mesti didapatkan.
Sajak Pesan Pendek
Sebuah Keinginan
Sebuah keinginan tergeletak di sampingku
kupandang lekat-lekat dan cermat
bercahaya memberi terang di mata
berkilau memberi sejuk di jiwa
Sebuah keinginan tergeletak di sampingku
kubaca lambat-lambat dan jelas
bercerita tentang keindahan cinta
berisi kebahagiaan akan hidup
Sebuah keinginan tergeletak di sampingku
kucoba meraih...
namun dalam genggaman masih mimpi,
tentang sebuah keinginan yang tergeletak di sampingku
yang masih kucoba meraihnya...
Asing..
satu detik saja semua hilang,
satu detik saja semua berlalu
dan satu detik saja aku merasa asing
Bertahun-tahun,
baru sekarang aku merasa asing berada di sini
satu detik saja aku menjadi asing!
kuteringat akan mimpi yang baru saja berakhir,
tiba-tiba aku sangat sedih.
diakhir dari pertemuan sebuah perpisahan hati
yang terlanjur menuangkan janji
“Maaf, aku telah membuatmu berharap”.
atau kenangan itu cuma sebuah pemberian
sebuah kenangan yang tak utuh...
Och 3
apa yang akan kau putuskan.
Adalah kehendak dari hati nurani
yang telah tenang dari jerat rasa sesaat
Karena kesadaran dan kedewasaan pikiran
akan muncul pada saat hati tak terpengaruhi
Dan dalam ketenangan itulah,
kau akan menemukan jawaban untuk dirimu sendiri
Itulah yang terbaik bagimu,
walau pada akhirnya luka itu pasti ada
Pasti ada.
sebuah dompet yang penuh dengan keimanan
dan kepercayaan yang tiada ternilai harganya
terjatuh saat menaiki kendaraan kehidupan
yang penuh sesak oleh kemunafikan
Bagi barang siapa yang menemukan...
harap disimpan sendiri,
dan akan menerima imbalan sepantasnya!
melayangkan hayalku pada ketinggian
yang diam-diam kumimpikan dan kuimpikan adanya
terhadap dirimu.
mungkin Ia akan mengirimkan kamu untukku.
Tapi sayang...
aku tidak begitu dekat dengan Tuhan.
butiran halus seperti berterbangan.
Perlahan semakin deras jatuh menghujam,
dibias temaram lampu di sudut jalan.
Malam, dingin dan sepi bersetubuh dalam derai hujan.
Akupun...
karena jika aku jujur, aku takut
kejujuran itu akan melukai hatiku
walaupun sekarang kebohongan itu
tetaplah sebuah luka.
Ada
tak dapat kulukiskan dalam kanvas,
tak dapat kutuliskan di atas kertas
Sesuatu yang masih kupikirkan namanya,
namun terasa akrab di dada
Sesuatu, sesuatu...
tapi jiwaku lebih lelah
Aku bisa mengistirahatkan tubuhku
tapi tidak jiwaku!
Jika waktu masih bisa kita isi dengan kenangan manis,
simpanlah dalam hati.
Dan jika suatu saat waktu juga memisahkan kita,
kenanglah dalam mimpi.
Kadang apa yang kita rasakan,
tidak bisa untuk dijelaskan
Karena apa yang kita jelaskan,
belum tentu seperti yang kita rasakan
Sebab kata-kata itu terbatas,
dan perasaan tiada ada batas
Akhirnya semua akan berlalu,
pergi dan menghilang
Dengan membawa kenangan,
ataupun tanpa kenangan
Dengan mengingatnya,
ataupun melupakan...
Semakin dalam aku terseret dalam bayang-bayangmu,
semakin berat aku untuk berucap.
Mungkin desah nafasku yang lebih berarti
dari bunyi terhadap kata-kata.
Aku tak pernah membayangkan dalam kesepian.
Karena membayangkan hanya bagi yang tidak merasakan. Sedangkan aku, di dalam kesepian itu sendiri.
Aku tak pernah membayangkan.
Karena apa yang kurasakan, bukan sekedar bayangan.
Dan kesepian itu, memang begitu nyata!
Jauh dalam lubuk hati
suatu kebohongan tertanam menyesat nurani
terkubur dengan kekerasan tuk tak akui
adalah hilangnya hari demi hari
namun sanggupnya masih kutahani
Jalan, bayangan kenangan masa lalu
kutapaki tanpa menoleh ataupun ragu
karena cahaya masih redup saat pagi
ia pun akan terang saat kudekati
tanpa merubah sesuatupun dalam hati
dengan kebohongan yang enggan kubuang
Adakah Kau
Tahukah kau...
betapa mimpi-mimpiku semakin jauh dari kenyataan
betapa kenyataan tak lagi memberiku mimpi-mimpi
Adakah kau...
Rentang waktu ini semakin memanjang
menyusuri angan yang hilang
dalam mimpi-mimpi tentang kenyataan
Mimpi yang tak kunjung datang
saat kubuka mata pagi menjelang
Aku bagian kenyataan yang hilang, dan terlupakan.
Selamatkah Malamku
selamatkah malamku dari kenangan terhadap dirimu?
Selamat malam!
selamatkah malamku dari bayang-bayangmu?
Selamat malam!
selamatkah malamku dari mimpi-mimpiku?
Selamat malam...
selamatkanlah malamku!
Saat malam lelah tuk kulewati,
kuresapi segala rasa atas waktu ini
lemah tak berdaya terbujur membawa kenangan lama dari kemarin dan hari ini
Ku tak mampu menggoreskan pena lagi
Dan esok hidup akankah tetap sebuah lembaran kosong?
Kadang diharapkan, kadang membuat senang
Tapi lebih sering membuat kesal
Perumpamaan yang sederhana buat sesuatu yang ternyata rumit
Atau mungkin bisa kita sederhanakan juga?
Adakah yang lebih indah dari seorang wanita?
Aku selalu memuja keindahan,
karena aku tercipta oleh keindahan... seorang wanita!
Biarkan aku melihat, mendengar, merasakan dan menikmati
Keindahan dalam hadirmu...
Dalam hadirmu...
Saat yang tak bisa kuurai dengan kata-kata
Aku hanya merasa, merasakan... begitu dalam
Aku selalu takjub terhadap pesona
yang mengalir begitu saja, yang bahkan tak kau sadari
Dalam hadirmu...
Aku hanyut begitu dalam,
teramat dalam!
Kulewati detik demi detik menyulam hari melewatkan masa
Entah darimana aku mulai, dan takkan pernah kuakhiri
Jalanku adalah ketersesatan yang panjang
Keterasingan dalam sebuah jiwa
Aku hilang...
Cahayanya lemah dibias hitam awan
Seperti ada lubang di langit...
Aku menuliskan aku, karena selalu ada lubang
Apakah aku aneh?
Kadang kupikir kau menganggukan kepala
Ini buatmu...
buat keindahan yang terlelap di matamu
Ini buatmu...
buat indahnya mimpi saat kau menutup pelupuk mata
Ini buatmu...
buat esok yang ceria!
Andai aku mampu,
banyak yang takkan kubiarkan pergi
Andai aku punya waktu,
banyak yang ingin kuraih kembali
Andai aku bisa memohon,
janganlah beranjak pergi...
Mataku menikmati sendiri,
hatiku menyimpan sendiri,
jiwaku memimpikan sendiri
Semua bagian diriku egois terhadap dirimu
Hingga bibir dan mulutku terpaksa terdiam sendiri
Pendamkan rasa cintaku!
Malam menyentuh titik kesendirianku
Menghamparkan sepi di pembaringanku
Terbujurku menatap hampa, kosong dan sia-sia
Atas waktu ini yang coba tuk terus kulewati
Sendiri menawarkan belati di sudut hati
Kuiris luka baru dalam luka lama
Lelah tuk mengobati, lebih baik kusetubuhi rasa ini
Pelan-pelan akan kunikmati dan menjadi candu tersendiri
Sakit tak perlu diobati, biarkan tubuh dan otak melawan sendiri
Atau mungkin bisa jadi teman sejati...
Kudengar rintik hujan jatuh perlahan membelah kesunyian malam
Kuresapi iramanya membasahi atap rumahku,
kuresapi perlahan dingin bersama hadirnya
Akupun melayangkan pikiran,
dalam malam ini aku berandai jadi hujan
Akan kubasahi hatimu perlahan dengan rasa yang kau bangkitkan di sudut hatiku
Walau seperti hujan yang kadang tak selalu diharapkan,
aku tetap akan mencurahkan
Betapa aku ingin memberi arti dan punya arti
Aah... hujan semakin deras, dinginpun tak membuatku terlelap
Sanggupkah aku?
Aah...
kuberikan seluruh bintang menemanimu,
kuberikan cahaya bulan menerangi wajahmu
Jika malam milikku...
kuhadirkan ratusan mimpi indah dalam tidurmu,
kujelmakan damai dalam pembaringan jiwamu
Jika malam milikku...
kuhadirkan pagi yang indah dalam kepergianku,
kuhadirkan rindu selalu untuk mengenangmu
Jika malam milikku...
aku akan selalu hadir buatmu
Mungkin semua yang hadir dalam hidupku cuma singgah sekejap,
lalu aku tinggal sendiri
Mereka mungkin tidak meninggalkanku,
aku yang tidak bisa membuat mereka untuk tinggal
Akulah yang meninggalkan diriku sendiri,
kubuat mereka pergi satu demi satu
Kusaksikan sambil menyisakan hati yang telah terserak,
kurelakan mereka mencabiknya
Bawalah atau campakkanlah... hatiku masih begitu banyak tersisa
Menunggu cabikan berikutnya,
atau mungkin akan ada yang menyempurnakan keutuhannya
Terimalah aku apa adanya...
Kuharap darimu sedikit teduh di tengah terik panas ini
Sedikit teduh agar aku tak dahaga dan berfatamorgana
Sedikit teduh buat aku melepas lelah dan mengistirahatkan jiwa
Aku butuh keteduhanmu...
Masih adakah tempat buatku?
Senja mendekat seiring hujan kali kedua hari ini
Setelah di awal pagi rintiknya mengusir kicau burung-burung kecil
Membawa sepi sama seperti sore ini
Dan dingin...
bawalah aku kemana saja selain disini
Bergulirlah wahai waktu,
jemputlah aku kemana akan kau lemparkan aku
Bergulirlah waktu,
jangan biarkan aku disini
Bergulirlah waktu...
Jika aku merindumu,
pernahkah terfikirkan olehmu?
Jika aku menyayangimu,
pernahkah terasakan olehmu?
Jika aku membutuhkanmu,
pernahkah terbayangkan olehmu?
Sungguh waktu
telah mampu membuatku termangu
Namun waktu
tak kuasa merubah perasaanku
Aku merasa sekarang aku mulai punya perasaan
atau mungkin mulai bisa merasakan
Dan sekarang perasaan itu semakin dekat dan dekat
Aku yakin pada waktunya,
aku akan pasti berucap dan bersikap.
Maukah kamu membagi mimpimu denganku malam ini?
Kadang aku berharap ada mimpi tentang kita
Tapi sayang,
belum cukup kenangan buat menghadirkan mimpi itu.
Aku ingin memberi,
tapi aku tak melakukan apa-apa
Aku ingin menerima,
tapi tak pernah meminta
Apakah ketakutan ini terus menghantuiku?
buat siapa masih kuhembuskan?
buat apa masih kusia-siakan?
Nafasku..
aku ingin setiap tarikannya punya arti
Nafasku..
janganlah selalu penuh keluh kesah
Nafasku..
percayalah padaku
Aku tahu,
waktu akan merenggut segalanya dari aku
Entah kenapa dengan diriku,
tetap saja aku tak bisa beranjak
Aku terbelenggu,
oleh waktuku sendiri
Dan aku yakin,
aku takkan bertahan
Untuk berubah atau menyerah..
Menyakitkan!
sebuah titik pusat dengan lingkaran sempurna awan putih tipis
dan langit terang bersih berbintang mengitari
Purnama setengah dua pagi,
tepat di atas kepalaku..
sepanjang anganku yang melayang
Kupeluk dingin dalam kesepian
yang turun dengan tetesan air hujan
Kudekap kekosongan,
saat kelebatannya menjadi irama
Aku di duniaku sendiri,
hanya hujan dan kenangan padamu
rasakan saat kau merindukan seseorang
menyayangi, sedih, bahagia, luka
tertawa, kecewa, penuh harap, putus asa
Sejuta rasa yang baru saja kau rasakan,
yang aku rasakan buat dirimu
aku kehilangan daya pikirku,
aku kehilangan harga diriku,
aku kehilangan rasa maluku,
aku kehilangan segala kemampuanku,
aku kehilangan kekuatanku,
pesonamu membodohi aku..
Aku seperti dirimu,
terhadap seseorang yang bagiku,
seperti aku terhadap dirimu
Lingkaran tak berujung
yang saling mencari ujung
untuk mengikat
saling atau dengan keterpaksaan
tiada pilihan, pasrah atau dengan kasihan
Yang mana untukku?
Christian Wijaya
Air Tawar 02-06
Thursday, October 05, 2006
Aku.. Mungkin Juga Kamu
1
Bolehkah aku bercerita tentang diriku. Dimana setiap waktu yg mengalir mengulirkan cerita-cerita yg tak pernah putus. Tentang kebebasan yg terbang dalam senja yg turun, diam-diam datang dan tiba-tiba saja begitu kelam. Akupun berjalan dengan apa adanya, kemana saja, karena hatiku adalah kelana yg mencari pintu untuk diketuk, dalam pengembaraan relung jiwa yg rindu rumah. Dan itulah aku, utara dan selatan, barat dan timur dan kau akan sulit menemukanku karena memang tempat untuk nurani dan cintaku belum kutemukan.
2
Pengembaraan hati jalani ruang-ruang yg sunyi, tiada arah yg menuntun kemana akan kembali. Putaran kehidupan menempa kekuatan jiwa akan kebiasaan tuk kehilangan dan ditinggalkan. Barangkali pertemuan yg harus kita tangisi walau awalnya keindahan terasuk ke dalam kalbu. Dan kisah ini pasti akan datang dan pergi, biar sesaat namun kuingat betapa rasanya.
3
Aku berjalan menyeret segala bayang-bayang, melampaui segala batas yg ada. Menduga-duga dalam rabaan tangan yg terkepal. Terlepas sudah semua yg tergenggam, kini kosong. Perjalanan memberikan kenyataan dalam praduga, memberi misteri tentang segala hal, segala yg terasa. Bahkan tiada terduga kepastianpun menjadi maya. Entah kapan mata terpejam, begitu pandangan jadi lain. Kuusap dada dengan sisa-sisa kesabaran yg ada.
4
Dan sepertinya keinginan harus mengalah, adalah kenyataan yg mesti menang. Tiada sekedar asa yg ada bisa membara kalau kehadirannya cuma sebatas pelipur lara. Bayangan dan hayalan yg menghantui setiap pikiran. Kenangan yg tersisa sayup-sayup mulai sirna, perjalanan di awal petualangan tiada ada arah. Melangkah dalam tanda-tanda yg tak ada dan salah, mungkin cuma sekali langkah ini terarah dan itupun tidak menjadi sedikit cahaya di gelap ini. Adalah diriku, mengembara diantara harapan tak jadi yg menjadi bayang-bayang tujuan hidup hari ini. Mungkin esok putaran rasa mulai memberi ketenangan, karena tak selamanya hati diam dan terpendam. Kurungan jiwa yg memenjarakan setiap keinginan, merasuki pelosok- pelosok kalbu yg bergelora dan menderu. Pemberontakan nurani mengalirkan perasaan terkekang dan pada akhirnya diri mulai memburu dalam kebebasan. Bebas dalam keinginan akan setiap penentuan yg cuma milik diriku dan egoku.
5
Aku gamang.. tiada tempat untuk berpegang. Ke segala arah yg kulihat adalah kesamaran. Bahkan aku takut melangkah di ketinggian ini. Sementara itu juga aku makin tertinggal. Aku gamang.. tiada tempat untuk berpijak. Antara reruntuhan rapuh ruang-ruang jiwa. Dan semakin juga tinggalkan akal sehat. Aku buta, aku meraba dan menerka. Aku gamang.. tiada tempat untuk berpaling. Mereka telah meninggalkanku tahun-tahun yg lalu. Kini hidup sendiri malah menyakitkan hati. Walau aku dibebaskan tanpa kata-kata dan perhatian.
6
Aku merasa lelah. Diburu oleh perasaanku sendiri. Tak pernah memutuskan suatu putusan. Tak bisa memilih suatu pilihan. Aku tak berbuat apa-apa. Rasanya aku tak kalah, menangpun tidak. Aku cuma merasa lelah..
7
Jangan pernah menyikapi aku. Terus terang keinginan itu semu. Dan cuma sikap yg aku perlu. Pelampiasan kalbu takkan jemu, mengais-ngais tiap deringan waktu. Pengakuan yg lugu kan jadi lucu, apabila engkau menyikapi setiap perilaku. Pergilah engkau wahai keragu-raguanku..
8
Kemana aku mesti berpaling, sampai kapan aku kan berlari. Adalah detak-detak di dada yg menyakitkan. Ketidaksanggupan dalam menatap tajam, ketidak berdayaan diantara beratnya keinginan. Paling tidak aku mesti mencoba, walau sekali bukan berarti tak berarti. Kemudian biarlah putus ditengah jalan. Dan akan kucari jalan lain, entah itu dimana.
9
Pengembaraan fikiranku lebih jauh dari ragaku. Tiada henti melayang, menembus segala angan-angan. Bukannya tiada keinginan tuk harapkan jadi nyata, namun kenyataanlah yg terkurung di alam fikiranku. Jangan pernah berharap keajaiban akan menyentuhku. Kurengkuh hari-hari sendiri dan tiada berarti. Dan bukan karena apa-apa kalau pada akhirnya kau menjauh dan menganggap aku aneh.
10
Bagaimanakah lagi harusnya aku, kalau aku seharusnya memang begini. Jangan tanya tentang keinginanku, karena engkau akan mendengar sebuah cerita roman. Biarkan penasaran bersarang di benakmu. Seandainya engkau tahu, tentu kau telah lama menjauh. Bagaimanakah lagi harusnya aku, kalau aku kan terus begini. Simpanlah segala tanya di hatimu, karena tanyamu adalah awal dari perpisahan. Dan bukan karena apa-apa aku begini, ketahuilah aku hari ini saja.
11
Aku sendiri bingung pada diriku. Perantaraan antara fikiran dan raga. Jalinan antara perasaan dan perilaku. Debaran keinginan dan kuatnya kemauan. Tiada pernah menyatu, tiada pernah..
12
Berangkat dari kemampuan untuk memberi lebih, kupacu separuh hati menggapai keutuhannya. Walau terasa kekurangan memberati segala keinginan, namun itu tak selamanya timbul dan datang. Aku rasa aku punya sedikit kelebihan, dimana orang-orangpun ingin memiliki. Tapi aku tak merasaknnya bahkan menyimpannya. Aku telah jadi apatis, bahkan terhadap keinginan hati yg terdalam. Aku telah terbiasa untuk memendam, segala cinta, rindu dan segala benci, dendam. Dan aku benci dianggap baik, sementara kebaikan itu kuberikan dengan keterpaksaan. Karena aku tak pandai menjawab, mengelak dan berdalih. Dan sebenarnya ke diaman ku adalah pemberontakan terbesar yg tak terdengarkan, dalam perang yg panjang semasa tahun-tahun pelarian di seluruh sendi-sendi kehidupaanku.
13
Ada yg jatuh dan luruh. Begitu saja, tak ada tempat tuk singgah. Misteri antara keping pecahan waktu. Menzinai perjalanan bumi yg renta, dalam warna semakin kelabu dan suram. Manusia tak lagi kokoh hadirnya, kadang terlahir menunggu ajal datang. Petualangan semakin lama dan melelahkan, dari pencarian sesuatu yg telah lama hilang. Begitu lamanya kadang telah terlupakan. Setitik kepercayaan di dadapun meranggas, kering dan cuma menunggu tiupan angin. Pada akhirnya gugur sebagai kenangan, bahwa dulu pernah ada..
14
Tiada seorangpun, kecuali aku dan pikiranku dan angin-angin liar yg meniup kenanganku. Sementara keinginan masih terperangkap dalam tubuhku. Dan nuranikupun memberontak menjungkirbalikkan logika, akal dan perasaan. Bukan kesabaran menyiksa tapi perangkap yg memenjarakan keinginan.
15
Pupus ditangan menggapai bayang. Kelikuan relung membentur kesemuan. Hati telah lama membeku dan hilang. Raib dalam tebaran pancaran cahaya. Begitu terang tuk menyilaukan tujuan. Akhir dari fatamorgana kesendirian jiwa. Angin tiup jejak-jejak tertutup debu. Pedih di mata undang segumpal air mata. Bukan tangisan, sekedar hidup apalah guna..
16
Sekali waktu melirik masa lalu sedikit perlu. Pilar-pilar langkah yg tertanam dan membatu. Adalah bayangan sekelebat kenangan manis serta pilu. Berlalu tanpa tahu, tiba-tiba terlewati, begitupun hilang. Masapun sekarang menantang, langkah bagai melayang. Sebutir pikir enggan berlalu, bertengger tatapi garang. Adalah putaran tasbih menghitung hilangnya hari. Putaran waktu tuk mengganti kekosongan hati di diri. Mengisi relung-relung dengan sedikit asa menggantung. Hanyalah harapan bagi insan yg tidak beruntung. Bak senja yg sedikit kelam dalm awan mendung. Untung-untung kilat dan hujan tak ikut bergabung.
17
Mengurai kata-kata di mulut, membuai janji-janji dalam hidup. Tak kuasa kulakukan walau pada diriku sendiri. Aku berjalan seiring waktu yg menjadi penuntunku. Mungkin hari kemaren bukanlah aku hari ini. Langkahku tak tentu mencapai segala penuh ragu. Aku bukan siapa-siapa dan tak perduli dianggap siapa. Yg penting dalam hidupku adalah jati diriku. Entah bagaimanapun aku ingin tetap menjadi diriku. Walaupun seandainya kehidupan berawal dari mula lagi. Jangan pernah memaksaku jadi orang lain, biarkan petualangan hidupku memberi kenangan. Dalam segala kepahitan dan kegalauan hatiku, dalam segala kemanisan dan keindahan cintaku. Aku takkan pernah berubah. Bagaimanapun aku cinta kehidupanku, kelebihanku dan segala kekuranganku.
18
Penjara ini terasa semakin sempit. Sementara kejahatan yg masih terpikirkan belum juga terlaksanakan. Penjara inipun semakin kokoh, sementara kekuatan jari-jari tiada lagi terkendali. Dan kurobohkan penjara ini dalam pikiranku, serta merta semua yg terpikirkan ingin aku lakukan. Sekarang juga bahkan secepat mungkin!
19
Perjalanan panjang mengembara rimba-rimba penuh segala kenyataan pada akal dan logika yg senantiasa tak mudah untuk diterima bahkan untuk perlu memahami dan mengerti menghabiskan separuh perjalanan yg serasa tak berarti dan memberi jawaban pada diri sendiri sampai dimanakah, ada dimanakah, bilamana pertempuran dalam hati nurani terasa telah mencabik-cabik sisa-sisa langkah yg semakin terseret, kaku perih dan terasa mengawang-ngawang menembus suatu batas-batas yg hendak kita temukan di sini dimana tiada arah ygmberi tuntunan membawa sejuta ilusi dalam mimpi-mimpi yg semakin sulit kita dapatkan tatkala tidurpun tak lagi memberi kenyenyakan karena pikiran terus berputar walaupun badan mati dalam kepenatan yg tercipta dari kenangan-kenangan masa lalu dalam kenyataan yg memberikan gambaran akan masa depan yg telah samar-samar sama-sama kita sketsakan dalam nurani dan dalam pemikiran yg semakin memburu suatu kepastian yg telah lama tersentak tatkala bisikan-bisikan kalbu menuntun ke arah yg tumpang tindih memberi rasa beban yg enggan meninggalkan perjalanan panjang dalam rimba-rimba yg kelam wahai musafir jiwa..
20
Ada sekali waktu untuk kau menangis. Bukan cuma tangisan di masa kecil. Menangislah untuk cinta, duka dan bahagia. Buat hidup tanpa beban di dada, walau tak miliki apa-apa. Sebab ada yg lebih berharga, perasaan dan nurani. Airmata adalah sebuah tetesan rasa. Jatuh dan berderai untuk seseorang dan kenangan, yg mempengaruhi hidup dan hatimu. Kadang airmata lebih jujur, muncul tanpa bisa kau bohongi. Sebab airmata adalah tetes nurani yg terdalam.
21
Aku butuh jalan ini, biar sempit dan berliku. Karena aku adalah pejalan, pejalan sang waktu. Pejalan yg mencari makna kala hiar-hari mulai sirna, ditingkah suara hati yg memaksa. Akulah sang petualang, mengarungi rimba belantar kalbu , yg terpenjara kabut semu. Di sini, di jalan yg sempit ini. Aku merangkak dan mencari tahu, secuil kenyataan yg jadi guru. Agar cahaya tak suram lagi, sebagai pedoman di masa depan. Bagi jiwa yg butuh peristirahatan. Merebahkan badan menatap bintang. Cuma dengan berselimutkan sehelai kafan. Aku ingin melepas lelah dengan tenang.
22
Hari-hari seperti detik yg berlalu, tiada kesempatan mengulang. Kesempatan yg datang terbuang sia-sia. Aku mengeluhi setengah perjalananku, dimana telah jauh jalan ini kuraba-raba. Ternyata masih penyesalan tiada arti, karena memang tiada guna di hari ini. Aku yg membuang harapan jauh dan hilang, mengharap kembali hadirnya sebuah asa tersisa. Akan kokohkah hadirku di dunia ini, tiada yg tahu dan mau tahu. Karena hidup adalah egoistik belaka, dan aku terlantar di dalamnya.
23
Aku telah disini, jauh sebelum orang lain menemukanku. Kubuat marka-marka yg hanya kupahami sendiri. Tak perduli walau cuma sebatas hayal ilusi. Karena di langitku hanya ada satu bintang, tiada rembulan ataupun sinar mentari. Aku hanya cinta pada satu bintang. Sementara pembaringanku adalah aliran air, yg terus membasuh dan mensucikan aku. Karena noda-noda yg ada takkan bisa menggapaimu. Aku telah di sini, semenjak ketinggian yg harus kuraih begitu terasa. Kuatur segala langkah dan perjalanan tuk kesana. Ketika senyummu hanya ada disana. Aku telah disini, dan semenjak itu aku adalah bayang-bayang. Tiada tersentuh, senantiasa ada dan tiada. Aku telah begitu hilangnya.Hanya karena cinta itu pernah di sini.. di hati.
24
Pernah sekali kita kesal, bahkan teramat kesal. Karena apa yg selalu kita inginkan tak pernah tercapai. Tapi kenapa perasaan itu juga yg terus membuat kita maju. Tak mudah menyerah dan tak mudah mengalah. Kesal itu kadang lebih baik dari diam dan termenung. Karena kesal dapat membangkitkan syaraf-syaraf untuk berfikir. Kesal itu instropeksi.
25
Kebahagiaan adalah bagian semu dari hayalan. Khayalan yg telah terbungkus dalam fatamorgana. Sementara itu juga kita terus mencari-carinya. Sadarlah, kebahagiaan itu telah milik kita sejak dulu. Cuma dengan jalan apa kita akan merasakannya. Karena itulah kita diberi perasaan dan talenta-talenta. Sekarang tinggal bagaimana kita terus menggali. Menggali keinginan yg menjadi tujuan hidup.
26
Ketika tak ada jalan pulang, berputar-putar dalam ketersesatan panjang. Mengembara menembus batas. Adakah keinginan yg tercapaikan, sementara angan terus melayang. Tiada yg dituju, cuma sebatas impian lalu. Namun ketika ia ingin berhenti dalam lelah, lagi-lagi semua terbentur kesemuan. Ia yg telah lelah dalam sesatnya, terus membawa sejuta impiannya. Cuma untuk secarik kenangan yg pernah ada. Tempat perhentian yg menggetarkan jiwa, dalam istirahat yg teduh dan manja. Yg hilang entah kemana, setelah lepas dari genggaman.
27
Buat sebuah kenangan yg tertunda. Hanya tinggal bayangan samar dan peka. Begitu tipis batas antaranya. Aku cuma tinggal mereka -reka dan merasa. Bahwa semua tiada beda tuk kurasa, karena aku telah terbiasa. Buat impian yg belum berlalu. Adanya begitu indah dan terang menyilaukan. Kala dimana mata hati begitu buta. Kurabalah apa yg terpegang, tapi sayang jangkauanku tiada sampai. Karena engkau memang jauh tuk kuraih. Buat hayalan yg masih terjaga. Dimana kesadaran adalah mimpi-mimpi semu. Membuai bola mata dan permainkan perasaan. Kenyataan yg memberi ilusi-ilusi sepi. Entah aku serasa dimana dan mengapa. Akupun tersadar di sudut kamar sepi ini…
28
Jikalau melupakan itu adalah bagian dari waktu. Adakah waktu yg tersisa bagiku untuk melupakanmu? Engkau begitu indahnya tuk kuhapuskan dari kenangan. Hanya sepenggal itulah kenangan yg tersisa. Walaupun tak utuh namun memberi arti. Jikalau melupakan itu adalah bagian dari waktu. Biarkanlah waktu yg akan melupakanku.
29
Lemparkanlah aku ke sudut-sudut keterasingan. Dan campakkanlah nuraniku ke liang-liang kegelapan. Biarkanlah kenyataanku menjadi hari-hari yg suram. Dan jangan pedulikan akan keberadaan dan hadirku. Sebab cuma engkau yg sanggup melakukan. Cuma engkau satu-satunya yg sanggup.
30
Di saat kau tak mengharapkan apa-apa, menjalani dengan apa adanya. Tiada hasrat dan keinginan yg berlebihan. Saat itu engkau akan mudah mendapatkan cinta dari seseorang. Namun disaat engkau ingin memiliki, menguasai hasrat dari hati seseorang. Lambat laun cinta akan menjauhimu. Kau takkan menerima seperti yg seharusnya. Kekuatan mata akan membuatmu ingin menguasai. Tatkala keindahan yg kau pandangi, jadikan kau serakah. Takkkan ada yg pernah cukup. Jangan pandang cinta dengan matamu, pandanglah ia dengan perasaanmu. Jangan kuasai ia dengan hasrat yg menggebu. Biarkan ia datang dengan kebutaanmu, biarkan ia memilikimu dengan keserhanaanmu.
31
Kita tak mesti memahami cinta, biarkan ia yg menuntun kita. Kita tak harus mencari cinta, biarkan ia yg menemukan kita. Dan kita akan belajar dengan sendirinya..
32
Aku merindu paras jiwa yg membuai. Yg memberi gejolak pada lautan nurani. Membelai dan menyenandungkan lagu cinta. Yg menciptakan ribuan pujian, tatkala hasrat harus kulabuhkan. Saat dimana derai hujan akan terasa hangat dan nikmat, dalam gairah pelukan sejuta kenangan diam. Dan belantara hati akan mengembara jauh dan bebas. Dimana sayap-sayap terkepak melayang lembut. Menebar serpih-serpih keabadian pada satu jiwa. Oh, bagi semua para pencinta, jangan biarkan hatimu terluka. Dan setiap yg tercipta telah ada sepasang. Milikilah ia semestinya ia memang untukmu.
33
Dusta jika aku tak mengakui, betapapun itu menyiratkan kelukaan. Adalah jejak-jejak yg patut kutelusuri dan itu bukan dusta. Karena hidup adalah lembaran cerita, baik dan buruk harus kujujuri. Nyata adanya hitam adalah layarku, tapi semestinya aku harus putih. Aku harus putih.
34
Kala cinta dan kerinduan mudah membuat kita menangis, mengapa tak jua kita hargai keberadaannya? Ataukah ini cuma permainan kata hati sesaat, yg tidak lagi kita pahami keberadaannya. Berkatalah dalam hati saja, bila kau tak pasti bila berucap. Sebab kadang ucapanmu adalah duri yg perih di esok hari. Pejamkanlah matamu, biarkan segala rasa yg menuntunmu. Agar bila kau buka hatimu, cuma kepastian yg kau tebarkan. Jangan permainkan hatimu dengan segala yg menggalaukan, walaupun sejujurnya keterbukaan itu adalah impian yg hilang. Cinta dan kasih sayang adalah uraian pucuk-pucuk mayang. Begitu indah dan lembut membayang, namun penyh kerapuhan. Jikalau kau ingin meraih dan memiliki untuk sepenuh kalbu, berjuanglah dari nuranimu sendiri, beranikah kau untuk setia. Sebab apa setiap perjalanan tak lagi mudah melaluinya, sebab jalan-jalan fana ini begitu penuh akan persimpangan. Akan kemanakah kita melangkah, terus atau ragu-ragu mengarah. Kuatkanlah mata jiwa dan rasa agar tak rapuh dan penat memilah. Karena itulah kita butuh cinta dalam perjalanan kita. Agar kita bisa berkaca, beristirahat dan membagi kelelahan. Dan sebab itulah kita mudah menangis untuk cinta dan kerinduan bila kita benar-benar menghargai keberadaanya.
35
Munafik jika aku harus menyangkal, akupun telah berkali-kali jatuh. Menyingsing lenganpun aku tak lelah. Aku sadar, itu cuma jalan yg harus aku lalui. Tinggal terserah aku, tetap berjalan atau berhenti. Walau aku lelah, hidup ini takkan aku sia-siakan. Dan semestinya hidupku harus indah. Aku harus indah.
36
Ucapkan saja, jangan terbebani. Dimana seharusnya kau katakan yg terasa. Jangan diam saat seharusnya kau bicara. Jangan menghindar saat seharusnya kau menerima. Ucapkan saja, jangan terbebani. Bilamana kejujuran tak untuk kau sembunyikan. Jangan bebani nuranimu dengan segala yg ada. Karena semua itu untuk kau lakoni bukan untuk kau sesali.
37
Aku terkatung-katung di makan usia yg merundung. Tiada yg menyangka kedewasaan itu cuma sebuah patung. Belum lama aku rasakan kepedihan saat ditinggalkan dan saat itu perjalanan baliqku tersesat entah kemana. Pikiranku tak mau menyatu dengan ragaku saat itu. Dan mimpiku adalah mimpi bocah ditimang sang ibu, begitu indah yg tak dapat kulewati bersama. Karena sang waktu adalah detak yg tak pernah terduga. Tiba-tiba esok semua berubah dan menjadi mendung. Kuputus keinginanku yg terjalin dalam segelintir detiknya. Akupun merelakan kepergian yg diatur sang ego. Tahun-tahun yg hilang adalah jalan panjang yg tersesat.
38
Bangunan impian menjelang ombak datang. Tiada daya tuk tahu kapan kan hilang. Semenjak bongkah-bongkah ini kugumpal-gumpalkan. Hingga menyerupai sebentuk pengharapan, batas ilusi yg tiada pernah berhenti. Terus membisiki agar khayalanku terus tinggi, sementara aku berpijak di kerendahan ini. Memang hidup kadang adalah rentang diri. Menahan hati untuk sesuatu yg diingini, bersabar hati untuk yg selalu datang menghantui. Kubangun setinggi mungkin menjulang tegak, kupoles sekokoh mungkin berpagar tegar. Tapi apa daya, tempat berdirinya yg ternyata rapuh. Biar langkahku tegar dan kokoh, namun kalu jalan yg aku lalui itu rapuh, maka rapuhlah semuanya. Karena kekuatan tak dapat dipaksakan. Seprti istana pasir ini.
39
Datang dan pergi adalah siklus kehidupan yg abadi. Sesuatu yg ada karena adanya sesuatu yg lain. Kehendak dan kemauan tiada cukup kuat tuk menghalanginya, kalau memang saatnya untuk pergi. Begitu kau memikirkan kedatangan jangan lupa mengingat kepergian, barangkali kau tidak begitu kecewa nanti. Tiada yg datang tanpa pergi dan tiada yg pergi tanpa datang. Siklus hidup yg abadi.
40
Sepanjang perjalanan. Dalam kejauhan mata memandang, tiada kenangan yg tertanam dalam, cuma sesaat mengais asa yg tersesat. Sepanjang perjalanan. Tiada berbekal dalam menelusuri akal, hampa mengosong mengubur jiwa terkekang dan hayalan-hayalan bagai sebuah kenyataan. Sepanjang perjalanan. Kelikuan hidup membentur batas pikiran, bayangan serta keinginan raib melayang, dalam ketiadaan akan arti Tuhan. Sepanjang perjalanan. Hati tak lagi bernurani semestinya, hilang di tengah kelengahan iman, hampir pasti mencapai dalam kemunafikan.
41
Jangan memaksakan suatu perasaan kepada orang lain. Dan jangan berhenti untuk menerima perasaan dari seseorang. Itu adalah anugerah karena kita memiliki perasaan. Memang kadang perasaan yg kita miliki tak selalu diterima oleh orang lain dan begitu juga sebaliknya, kadang kita sulit menerima perasaan dari seseorang. Maka jadikanlah perasaanmu sebagai tempat berkaca bila kau ingin ia memiliki perasaan yg sama.
42
Cinta terkadang adalah cahaya di tengah teriknya matahari, sebuah cahaya yg tiada berdaya dan sia-sia. Namun cinta terkadang adalah setitik air di tengah panas gurun pasir, setitik air yg penuh aliran kehidupan.
43
Mencintai adalah keinginan memberi sinar mentari. Memberi kehangatan, bayang-bayang dan pelangi. Biar selalu hadir dalam hati yg sunyi. Mencintai adalah kemauan menerima hembusan bayu. Menerima kedinginan, kepedihan dan debu. Agar selalu hadir makna pengertian di kalbu. Mencintai adalah keterpaksaan tuk berbagi ketulusan. Ketulusan tuk membuang keterpaksaan. Dan lambat laun mencintai adalah suatu rahmat dan nikmat.
45
Lukisan alam di batas cakrawala, membarut pandangan lepas ke tengah samudra. Pantulan cahaya membayangi ombaknya. Debur-debur yg menghempas membuih putih, menyapu sepanjang pantai di sepanjang waktu. Anginpun membelai, menerpa setiap saat. Senja di pantai ini adalah kanvas keagungan-Nya. Dalam setiap kehadirannya penuh dengan nuansa, sedikit keindahan-Nya yg hadir walau tak lama. Cukup tuk memberi kepuasan dan ketenangan, agar terucap kata pujian dan sanjungan buar-Mu. Tiada yg lebih indah dari karya-Mu selain.. anugerah buatku tuk bisa memandang laut ini, sekali lagi.
46
Perjalanan hidup nyata butuh kasih sayang, biar selalu bahagia dan indah. Merasakan di dada adalah debar-debar penuh misteri, hati dan nurani akan jujur terhadap perasaan. Rasa cinta yg tumbuh kadang perlu waktu dan perjalanan waktu adalah pencarian jati diri. Saat kau menemukan seseorang yg sangat berarti, maka tumpahlah seluruh misteri tentang dirimu. Sebab cinta adlah pencurahan dan berbagi.
47
Selamat malam, selamat memejamkan mata membaringkan kelelahan. Dalam sapaan bunga-bunga tidur yg mengantarkan kelopak mata dalam peraduan yg indah. Selamat malam, selamat membaringkan segala persoalan untuk kau lupakan sesaat. Dalam keheningan yg memberi ketenangan ketika detak jam adalah kalender malam yg tersisa. Selamat malam, ucapkanlah doa-doa yg penuh harap agar kedatangan tidurmu adalah bagian dari keindahan yg mengiringmu menemukan indahnya hari esok.
48
Alam mengulirkan waktu. Perputaran mukjizat dari masa ke masa. Menembus batas pikiran insan manusia. Pergerakan detik-detik yg menghilang, merobek kalender hari-hari di dinding. Hitungan bulan dan tahunpun menua, menyiratkan usia yg tinggal tersisa. Sementara fikir tak jua habis, bersatu dalam kekuasaan alam yg abadi.
49
Sentuhan kecil di sudut hatiku kala manisnya senyuman menyambut kedatangan hari, pagi ini. Kicau burung menyambung hembusan angin, menerbangkan suara keindahan yg menyusup di telingaku serasa memanggil namaku, halus dan lembut. Adakah hidup kan selalu indah..
50
Cakrawala jatuh yang jauh di sudut lengkung garis lembayung tersisa dalam senja merah yang gerah saat mentari pudar menyerah menyiratkan debur-debur ombak yang membentur pada ujung karang dan perlahan panorama perpisahan terucap pelan menyambut malam desir-desir anginpun mengusung kegelapan yang datang menjelang menghadirkan hiasan angkasa yang datang satu-satu kelip perlahan dan kesunyian mulai menembus batas langit menuai sang waktu melaju dalam perjalanan yang sendu menunggu yang tinggal berlalu bersama sang rembulan kadang suram berselimut kabut malam kesendirian di tengah padang alam raya yang jauh mengembara menggapai seraut cahaya di fajar yang membakar hutan raya merangkak mencapai puncak-puncak bukit yang melingkar berurai menghadirkan tetesan-tetesan embun yang luruh dan jatuh menhempas dan daun-daunpun melepaskan keringat malam yang membungkus mencoba mencari kehangatan di sela-sela puncak pohon menjulang mengiringi hilir air yang mengemercik membasuh bebatuan duhai mukjizat alam raya tersaji nyata di depan mata.
51
Menggapai bayangan akan hadirnya rasa, menuntun peraduan jiwa ke titik dasarnya. Lubuk hati yang terdalam merengkuh sukma, getar-getarnya indah dan menakjubkan. Keangkuhan lenyap, merebak sedikit kejujuran. Adalah satu yang tak bisa dibohongi, adanya cinta putih di setiap insan. Begitu suci dan penuh sentuhan kasih, walau penuh dengan liku-liku jalannya. Dan kata tak sanggup menyatakan, bila kasih putih berpendar dalam cinta bersih.
Kelembutan yang menyeruak elus sekeping asa. Benang-benang merajut
Pernah sekali aku bertanya dalam hati
kenapa kita punya keberanian pada hal yang tidak masuk akal
sementara pada hal yang biasa saja, kita begitu takutnya…
Aku tiada pernah mengerti apalagi memahami
ajaran-ajaran suci yang meneduhkan hati seseorang
kulihat mereka penuh dengan kepercayaan dalam diri
sosok-sosok yang lembut, tenang dan sabar
tapi kenapa mereka juga mudah berubah dengan seketika
meluapkan emosi dengan begitu entengnya
aku tiada pernah mengerti.
Menyendiri di sudut kamar sepi, saat kesendirian datang dan menggerogoti
merenung entah apa yang teresapi, cuma kebingungan yang selalu menyelimuti
aku hadir sebagai sosok yang kalah, walau kemenangan itu bisa kuraih
aku telah kehilangan batas-batas kepercayaan pada diri sendiri
semenjak jari-jariku sulit ‘tuk kukepal
entah kenapa, tiada rasa benci, tiada rasa emosi
aku bagai patung yang diam mengamati dan aku mati perasaan.
Adakah kemauan
Aku memulai hari seperti aku mengakhirinya. Saat malam datang menjemput kehampaan yang berhasil kuraih. Dan kenangan yang dapat kuraih hanyalah saat aku tidak melakukan apa-apa, saat mata terpejam dan hati mati. Sungguh ironis.
Kadang aku ingin jadi orang suci. Dan kupatut-patut diri jauh ke masa depan. Terbayang betapa tenang dan nikmatnya hidup. Lalu kupatut-patut diriku saat ini. Ternyata hidup tetap nikmat, namun tiada ketenangan.
Kadang memang ada sesuatu yang tidak bisa kita duga, walaupun rasanya kepastian itu sudah tergenggam. Dalam perjalanan akan pencarian suatu hakekat ternyata adalah jalan yang tiada terjamah oleh pandangan. Dan hitungan waktu tak nyata ‘tuk dikira entah itu sekejap atau butuh waktu yang lama. Perasaan kita kerap tumpang tindih bahkan dalam waktu yang bersamaan, tiada rasa yang dominan. Kitapun termangu, tidak bisa mengambil sikap dan itu adalah waktu kita yang terbuang percuma. Dalam kegamangan, kegalauan yang kadang kala adalah suatu jerat pada kehidupan yang akan datang. Dan akhirnya kitapun bertanya, apakah hakekat hidup yang kita cari. Sementara rasa itu pernah begitu dekat hadirnya namun begitu berat untuk meraihnya. Kitapun tersentak, entah itu untuk suatu kesadaran ataupun sebagai penyesalan.
Apakah cinta itu menipu,
membuat perasaan kita seperti termangu
terkesan menjadikan perasaan adalah belenggu
yang dalam sesaat melambungkan jiwa jauh memburu
melayang dalam asa-asa yang ternyata adalah semu
dan tiba-tiba seperti mimpi yang berakhir di awal pagi
semuapun berlalu tanpa ada makna yang dapat dimengerti
karena itu semua hanya bunga-bunga tidur pelelap lelahnya hari
dan akupun terbangun dengan cinta yang telah pergi
sebelum sempat aku memberi dan menikmati
cinta itu adalah mimpi.
seusai hujan di sore hari
kutatap lekat-lekat dan secermat mungkin
karena perlahan ia mulai memudar
Kuingat baik-baik dalam fikiranku
kurasa dalam-dalam di hatiku
Dan biarkanlah pelangi itu menghilang
karena ia telah tersimpan di sudut jiwaku
Esok ‘
dan kenangan itu takkan pernah hilang
karena keindahan adalah cinta abadi
engkaulah…
Barangkali cinta adalah penyamaran, datang dalam bentuk yang tiada diketahui. Dan tiada dapat disangkal lagi, kita butuh cinta itu. Walaupun tanpa kita sadari kita telah menerimanya, hanya saja tidak kita kenali. Karena cinta adalah penyamaran.
Mungkinkah terwujud suatu kenangan, sebelum aku melepas lelah nanti malam. Kenangan yang akan aku ingat sebelum menarik selimut dan memejamkan mata, berharap akan datang mimpi-mimpi yang lain. Dari kemarin, dari masa lalu.
Engkau telah menuangkan anggur di gelasku
memaksaku untuk mereguknya hingga tiada bersisa
kau membuatku mabuk dan sempoyongan
namun kau menjauh untuk aku bersandar
kau biarkan aku jatuh dan muntah
Engkau yang membuatku mabuk, namun engkau menolak untuk minum bersamaku…
Hujan di awal pagi, rintiknya kecil jatuh membasahi
tiada kicau burung hari ini, sepi sungguh di hati
mentari yang bersiap muncul, urung menampakkan diri
dingin yang hampir berlalu kini hadir lagi
Lalu teringat padamu akan menambah sepi di hati
dari balik jendela kaca yang mulai basah,
pandangku jauh menerawang
apakah kan ada pelangi pagi ini…
66
Kuhampiri malam, dan kucoba masuki sisi yang paling kelam. Tuk mengubur asa yang pernah kupendam, di relung hati yang paling dalam. Namun telah berpendar satu sisi lagi, yang coba angkat aku dari puing-puing waktu. Yang pasti saatnya
Aku kembali pulang ke keterasingan, yang ternyata adalah rumahku yang nyata. Berkali-kali kucoba melarikan diri, namun kenyataannya aku tetap disini. Kucoba mencari tempat persinggahan, satu persatu aku ketuk pintu demi pintu. Namun selalu kembali aku menutupkan pintu untuk keluar dengan tertunduk. Kembali kucari pintu lain untuk kuketuk. Mungkin suatu saat pintu itu terbuka dan menutup, dan takkan pernah terbuka lagi. Dan aku terkurung di dalamnya, dalam sebuah hati yang damai dan penuh cinta.
Kujemput malam dengan kenangan yang tersisa, kujadikan mimpi saat tidurku terasa hampa. Dan malam yang berlalu adalah kekalahan jiwaku, saat dimana tiada dapat kurengkuh hatimu.. hari ini. Aku terus jalani hari-hari bagai terpenjara khayalan, yang terus memunculkan wajahmu yang menari-nari. Di seputar otakku, di segenap ucapku, di sekujur nuraniku. Serasa aku ingin membunuhmu dari rasa yang membunuhku…
Aku telah jauh dari harapan orang-orang yang mencintaiku. Karena dari rasa cinta itulah mereka membuat harapan-harapanku bagai terpenjara. Aku merasa cinta mereka adalah perangkap yang menjerat segala keinginanku. Dan itulah yang mereka sebut dengan cinta. Namun sekarang, setelah aku dibebaskan dari kata-kata dan kasih sayang. Perangkap itu semakin kuat menjerat diriku. Entah apa yang kuinginkan, semuanya bagai kilas balik berbagai kenangan yang terdahulu, yang membuatku selalu terpaku.
Bila jalan tak lagi mulus dan penuh lubang, jangan salahkan si pembuat jalan. Cobalah untuk hati-hati dan waspada dengan langkahmu. Karena itu engkau diberi rambu-rambu dan petunjuk dalam perjalanan.
Kubawa hari-hari ini dalam mimpi di malam hari. Kubangunkan kenangan di pagi hari ‘tuk menjelang hilangnya hari. Dan putaran waktu ini pun akan membawaku kembali berfikir. Sesaat sebelum kututup mata menjemput sebuah mimpi lagi, apakah yang telah kuperbuat hari ini…
Tiada batas kuselami terus kuselami
pada dasar yang hendak kugapai
kuulurkan tangan kurengkuh sedapat-dapatnya
hingga genggaman sulit ‘tuk kukepal lagi
namun kehampaan dan kekosongan yang tiada arti
apakah pencarian ini kan berhenti
apabila hilangnya sedikit demi sedikit rasa akan percaya diri.
Rasa itu begitu dekat namun begitu pula jauhnya. Ternyata belenggu pada pertama adalah untuk selamanya. Karena nyata ku tak bisa berpaling, biar telah hilang tali-tali pengikat. Namun kuterbelenggu dalam jiwa yang tak kuasa memberi sebuah kata.. lupakanlah…
Seandainya tidur dapat kunikmati, takkan kusesali datangnya pagi. Kembali kuterbangun dengan rasa sepi dan tanpa ingatan kepada seseorang. Memberi rasa kesunyian di lubuk sanubari. Aku cuma ingin hidupku ada arti, bukan sekedar mimpi.
Ketika yang tersisa cuma keheningan malam. Tiada suara, terasa sunyi. Ketika yang hadir hanya keheningan hati. Tiada rasa, kian terasa sepi. Kusadari… tanpa cinta, ini bukanlah kehidupan. Cuma kehampaan !
Jangan pernah mencari cinta. Karena cinta bukan milik siapa-siapa. Dan jangan pernah lari dari cinta. Karena cintalah yang memiliki kita.
Malam menjalar menyentuh kesendirianku, sementara bodohnya kerinduan terus merayu akal dan fikiranku. Terasa tidak pernah ku bisa untuk mengusir kelemahanku, terhadap bayangan yang kuciptakan cepat datang dan pergi. Apalah artinya semua ini, bila ternyata saat rasa itu hadir aku masih terus kehilangan tanpa keinginan mencari. Memang kuakui, aku terlalu berharap dalam penantian karena kupercaya cinta itu tidak untuk dicari, tapi ia datang untuk ditemukan. Walau kini ia telah hadir…
Alangkah nikmatnya bisa mencintai
labuhan perasaan yang tiada terkira
kutuang semua untuk kau miliki
karena rasa itu tak habisnya
walau waktu menelan usia kita
Dan buat yang pertama, aku takkan melupa
andaikata cinta tiada memiliki sekalipun
biar saja… bawalah hatiku ikut serta.
Jangan berpaling, saat tatapanmu terbentur akan keangkuhan dan kesombongan. Tataplah dengan kelembutan dan keteduhan. Tiada sesuatu yang tidak dapat berubah, selama keyakinan masih kau pegang di hatimu. Jika perlu waktu, pupuklah kesabaran dari semula. Engkau harus terus memelihara harapan-harapan dalam dirimu, karena untuk itulah engkau hidup. Untuk mewujudkan suatu impian yang pernah kau lukiskan di sudut hatimu, jauh sebelum harapan-harapanmu menjadi penuntunmu. Jangan berpaling, lakukanlah yang terbaik dari hidupmu untuk kehidupanmu.
Dingin menyusup ke relung-relung hatiku, menggigillah nurani menahan kesendirian. Alangkah kelunya perasaan dalam kalbu, seiring hembusan angin aku cuma kebagian harummu dan bukan dirimu. Andaikan engkau dapat kuraih, tak semestinya pencarian tlah terhenti. Dan engkau bukan persinggahan karena perjalananku tak ada ujungnya. Dan telah kuduga dari semula, aku akan berjalan tanpa dirimu.
Hidup ini terkesan menghabiskan waktu bagiku, dan waktu yang tersisa entah berapa lama lagi. Sementara itu juga aku belum bisa menghargainya. Aku telah kehilangan harta yang berharga… waktu. Waktu yang membuat aku masih berada di masa lalu. Terpenjara pada suatu keadaan yang membuat aku berhenti bergerak, aku diam. Perantaraan waktu terus menggerogoti sisa-sisa perjalanan yang ada, yang telah kuhentikan sejak lama. Dan aku malu, karena nyata seterusnya aku masih terpaku. Atau aku lemah, karena waktu telah menghancurkan segalanya. Yang pasti aku telah kalah oleh waktu.
82
Aku percaya cinta akan selalu berubah. Karena cinta adalah perjalanan waktu. Ia takkan menunggu lama, takkan. Namun ia sanggup menghabiskan waktu yang lama, bahkan teramat lama…
Aku takkan pernah memohon ataupun meminta. Karena dari sanalah muncul rasa kasihan. Rasa yang dari semula sangat aku benci. Jangan pernah sekalipun kau merasa kasihan. Sebab itu biarkan saja semua ‘kan terjadi. Dan hidup adalah untuk mengalami. Merasakan semua perasaan yang kau miliki. Untuk muncul dan memberi sebuah arti. Bahwa hidup ini bukan untuk disesali.
Kadang kala dalam mencari sebuah jati diri, membuat kita penuh dengan pengalaman. Tentang segala hal yang ingin kita ketahui. Kitapun selalu mencari petualangan-petualangan baru, mencicipi pahit manisnya kehidupan. Kita berkelana dalam perjalanan yang samar. Namun walau begitu selalu ada keberanian, karena kita memiliki ego yang mendampingi. Membuat kita selalu ingin menjadi seperti yang kita kehendaki.
Adakah hasratku berlebihan…
apabila ambisiku tidak tergapaikan.
Atau apakah ambisiku yang lemah…
hingga hasratku terabaikan.
Apakah yang nyata di dunia ini selain kematian… ? Jangan kau kira cinta adalah sesuatu yang nyata. Dan bila kau percaya, lukalah yang ternyata lebih nyata. Tiada yang dapat menjadi pegangan apabila itu semua cuma semu. Seperti menggapai bayangan sendiri membelakangi matahari. Jadi jangan pernah terlalu berharap, karena harapan yang terlalu tinggi penyebab sakit yang pasti ada. Pabila suatu saat kau jatuh menimpa bayanganmu sendiri, bayangan akan kekalahan dan kelelahan.
Kau bawa sebagian kepercayaan diriku, harga diriku dan kekuatanku. Semuanya hampir kuserahkan tatkala harapan itu begitu dekatnya. Namun engkau jualah yang membuat harapan itu terbang di jalanan. Menjadi rendah diterpa debu-debu jalan yang melayang perih di mata. Kuusap keperihan itu dengan kesabaran yang tersisa dari masa lalu, kini. Semua bagai mimpi, namun kenangannya adalah sejarah. Terulang lagi walau bukan mimpi yang sama.
Dalam rentang waktu yang sekejap, aku tertawa sekaligus menangis dalam senyuman yang penuh kisah. Adakah semua ini adalah permainan dan aku mendapat peran kecil, sebagai pelengkap sebuah sandiwara. Dan sebelum semua selesai, aku telah tercampakkan di awal permainan yang adalah pembukaan drama ini.
Kupalingkan wajahku dari keinginan menatap dirimu
bahkan dari kejauhan bahkan di dalam mimpi
Namun hatiku tak sanggup kupalingkan dari rasa
yang selalu memberi getaran, hangat dan bergelora
Adalah kenyataan bahwa semua yang terasa itu
tak selalu dapat untuk kita miliki walau sempat terjamah
Semestinya dari awal ini takkan terjadi. Apabila ucapan nyata membuat suatu belenggu. Yang membuat pikiran enggan menyatu dengan perasaan. Dan semua terlepas dalam sekejap karena laku memang tak begitu. Ternyata sikap yang perlu, bukan ucapan. Jangan percayai ucapan, entah adakah maknanya lagi. Bila ternyata membuat hati dalam kebohongan. Entah memang begitu ataukah cuma permainan semata dan cinta bagiku adalah permainan kata semu. Karena nyata hatimu terpancar dari sikap dan laku, dan bukan dari kata-kata serta ucapan. Aku memang tak bisa meraih hatimu.
Jangan pernah menyerah, bila kekalahan bertubi-tubi memaksakan keputus-asaan. Tak ada yang kalah dalam hidup ini. Cuma cambuk ‘tuk merasakan kemenangan. Kita perlu kalah, untuk lebih mengerti hidu
Aku serasa jauh, bahkan teramat jauh. Untuk menjadi seseorang yang kau harapkan. Kau tak bisa menciptakan aku, walau engkau memiliki aku. Kamu hanya bisa memperbaiki aku, bukan mengubah aku. Tidak sekalipun pikiranmu dapat kau paksakan padaku. Kau hanya bisa menyelipkan dan bukan memenuhkan. Untuk menjadi seseorang yang kau inginkan, jangan berpikir untuk menjadi seperti orang lain. Jadilah dirimu sendiri, walau tak seperti yang diharapakan oleh orang lain, bahkan oleh dirimu sendiri.
Jangan sekalipun berpaling, arah yang di tuju harus kesampaian. Biar tak hari ini tak apalah. Jangan sampai berhenti melangkah, tak peduli lambat dan tertatih. Jangan mengeluh dan mengaduh, rasa pahit ‘
Wahai bunga, jagalah agar kau tak cepat layu. Selalulah mekar dalam warna-warnimu. Biarkan harummu menyebar ke segala penjuru.
Wahai bunga, jangan biarkan kau dipetik. Tetaplah tumbuh dan penuh keanggunan. Biarkan godaan datang, biarkan pujian berlalu.
Wahai bunga, jadikanlah keindahanmu semakin berkilau. Agar engkau ‘
Wahai bunga, bila suatu saat kau telah jatuh cinta. Serahkanlah keharumanmu dengan setulusnya. Dan selalu kuiringi langkahmu dengan doa.
Bayangan indah dan menawan walaupun betapa cantiknya tetaplah sebuah bayangan. Dan engkau yang menciptakan bayangan itu masih samar untuk ku temukam. Akukah yang tidak pandai mencari atau engkaukah yang terlalu pandai untuk sembunyi. Aku rasa keduanya…
Bayangan, hayalan dalam ketermenungan yang panjang membawa alam fikiran pada kegelapan yang tersentuh sedikit cahaya melatari panjangnya bayangan yang tercipta dari hari ke hari, dari malam ke malam, dari masa lalu, hari ini, esok..
97
Adakah saat-saat penuh kesepian ini membawaku pada suatu keterasingan yang aneh, panjang dan penuh misteri. Tatkala saat kebersamaan dengan dirimu masih dengan malunya aku simpan sebagai suatu pertemuan biasa. Aku mulai butuh perhatian…
Sesuatu yang cantik belum tentu bisa membuatmu jatuh cinta, keindahan yang hanya bisa membuatmu kagum. Tapi sesuatu yang kau cintai, akan membuat segala hal tentang keindahan, kecantikan akan nampak. Dan dengan hasrat akan kau katakan itulah kecantikan, keindahan yang bukan sekedar kekagumanmu.
Memang kadang kebaikan hati masih tertutupi oleh pandangan akan jasmani. Dan jangan munafik bila kitapun masih menilai dan memandang dari lahiriah setiap kehadiran sesuatu. Bila engkau percaya kecantikan itu akan tumbuh lambat laun di hatimu, jika sentuhan-sentuhan penuh perhatian terus menyirami setiap sudut hatimu. Kecantikan dari dalam akan membuat kecantikan itu seperti angin yang terus membaluri sekujur nurani dengan suaranya yang lembut, desahnya yang pelan, tiupannya yang sejuk dan belaiannya yang halus. Sehingga engkau tidak akan berucap, hanya bisa terdiam. Saat itulah engkau tidak akan peduli lagi dengan lahiriah…
Siangpun beranjak senja dan menjadi senja
senjapun akan berlalu…
Namun aku ingin senja ini berakhir dengan indah,
lewat kemilau cahayanya di batas cakrawala
dan biarlah malam datang dengan tenang…
Aku ingin hidupku pun begitu!
Air Tawar 2001








